Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, July 31, 2014

Ini Surat Terbuka SBY Terkait Pembantaian di Gaza





Presiden SBY menuliskan surat terbuka yang diunggah ke laman Facebook resminya. Surat Terbuka (Open Letter) Presiden SBY ini telah dimuat dalam versi bahasa Inggris di Harian Strait Times edisi 31 Juli 2014.



Berikut isinya:




SURAT TERBUKA PRESIDEN SBY KEPADA PARA PEMIMPIN DUNIA TENTANG KRISIS KEMANUSIAAN DI GAZA*




Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono. Saya seorang muslim yang mencintai keadilan, dan yang sekaligus mencintai kedamaian, kemanusiaan dan demokrasi. Hampir sepuluh tahun ini saya memimpin Indonesia, dan beberapa bulan mendatang saya akan mengakhiri tugas saya sebagai Presiden Republik Indonesia.





Kemarin, setelah pagi harinya bersama rakyat Indonesia merayakan ldul Fitri dengan tenang dan damai, sebuah hari keagamaan yang agung bagi umat Islam, sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata saya. Melalui tayangan televisi nasional dan internasional, hampir setiap menit, saya menyaksikan jatuhnya korban jiwa di Gaza akibat kekerasan dan aksi-aksi militer yang tengah berkecamuk. Hampir semua yang tewas dan yang Iuka-Iuka adalah mereka yang tidak berdosa, tidak berdaya dan tidak bisa menyelamatkan diri dari desingan peluru dan bom-bom maut pencabut nyawa.





Isak tangis ibu-ibu yang kehilangan putra-putrinya, serta jeritan anak-anak yang tiba-tiba kehilangan orang tuanya, sungguh menusuk relung hati saya yang paling dalam. Saya yakin, siapapun dan bangsa mana pun hampir pasti akan mengalami kesedihan dan kepiluan yang sama menyaksikan tragedi kemanusiaan yang tak terperikan itu.





Sebagai seorang Presiden yang saat ini tengah memimpin sebuah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tentu saya tidak hanya bersedih dan marah. Hingga saat ini saya juga aktif melaksanakan diplomasi beserta para menteri dan diplomat Indonesia, termasuk dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, tetapi situasi yang ada di Gaza kenyataannya bertambah buruk.





Oleh karena itu, dari Jakarta, saya harus meneriakkan seruan moral kepada seluruh bangsa di dunia, utamanya para pemimpin dunia, dan utamanya lagi kepada pemimpin Israel dan Hamas, untuk segera menghentikan kekerasan dan tragedi di kawasan itu. Dengan seruan ini saya berharap para pemimpin dunia segera mengambil tanggung jawab bersama dan benar-benar bisa melakukan atau "memaksakan" gencatan senjata dan mengakhiri operasi-operasi militer yang nampaknya makin tidak pandang bulu.





Gencatan senjata itu mesti dilaksanakan sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Dengan gencatan senjata, berarti serangan Israel melalui udara, laut dan darat harus segera dihentikan. Demikian pula tembakan-tembakan roket dari pihak Hamas mesti diakhiri, agar aksi balas membalas atau siklus kekerasan tidak terus berlanjut. Tindakan para pemimpin politik dan militer untuk melanjutkan operasi-operasi militer saat ini hanya akan makin menambah jatuhnya korban jiwa, termasuk anak-anak, kaum perempuan dan golongan lanjut usia.





lni semua sudah menabrak hukum, moral dan etika perang, yang harus dijunjung tinggi di sebuah dunia yang beradab.





Meskipun saya seorang muslim, saya tidak melihat masalah ini dari segi agama. Saya tidak mengaitkan pikiran dan seruan saya ini dengan Islam, Yahudi, Kristen, Katolik dan agama atau keyakinan apa pun. lsu yang kita hadapi ini adalah isu tentang kemanusiaan, moralitas, hukum dan etika perang, serta tindakan dari pihak mana pun yang telah melebihi kepatutannya. 





Tragedi kemanusiaan dan penderitaan manusia yang tak terperikan ini juga berkaitan dengan rasa tanggung jawab dari para pemimpin, yang baik langsung maupun tidak langsung telah membuat tragedi kemanusiaan ini terus berlangsung.





Terus terang, Indonesia secara konsisten dan tegas mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Dunia harus benar-benar memberikan kepastian bagi terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, serta diakui oleh masyarakat dunia. Juga Palestina merdeka yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel, dan juga dengan negara-negara tetangganya. Konsep "dua negara dalam kawasan yang damai" adalah konsep yang saya pandang dan yakini sebagai konsep yang realistis dan bisa diwujudkan.





Dengan tontonan dan contoh buruk tentang konflik, perang dan kekerasan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, atau juga di tahun-tahun sebelumnya, maka anak-anak bangsa mana pun, termasuk anak-anak muda kita, bagai diajarkan ya begitulah kehidupan di dunia yang mesti dijalankan. Padahal, selama hampir sepuluh tahun ini saya mengajak bangsa Indonesia, termasuk umat Islam Indonesia, untuk senantiasa mencintai perdamaian, persaudaraan, toleransi dan kerukunan. 





Saya juga berjuang dengan gigih untuk memerangi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di bumi Indonesia. Saya juga aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam forum dialog antar agama dan peradabannya baik di Indonesia maupun di berbagai forum internasional. 





Saya juga memelopori dan memimpin penyelesaian berbagai konflik di Indonesia secara damai dan demokratis, termasuk konflik di Aceh dan Papua, konflik komunal antar dan intra agama, serta konflik kepentingan dengan negara lain termasuk sengketa perbatasan dengan negara-negara tetangga. 





Saya juga berupaya sekuat tenaga untuk menjaga dan mempertahankan garis Islam Indonesia yang moderat, rukun dan toleran, di tengah pengaruh global yang sering menyebarluaskan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. 





Saya menyadari bahwa semua itu tidak bisa "to be taken for granted", melainkan harus terus kita jaga dan upayakan perwujudannya. Pendek kata saya berupaya sekuat tenaga untuk mengajak bangsa Indonesia agar mencintai perdamaian, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan, serta toleransi dan bisa membangun persahabatan dan kemitraan dengan bangsa lain. ltulah konon katanya nilai-nilai universal yang diajarkan oleh orang-orang bijak di dunia.





Apa yang terjadi di Gaza dan tempat lain di Timur Tengah atau Afrika Utara dewasa ini, dikaitkan dengan misi dan tantangan yang saya hadapi di Indonesia, bisa dibayangkan betapa beratnya saya mengemban tugas-tugas yang mulia itu. Apa yang harus saya katakan kepada ratusan juta rakyat Indonesia? Bagaimana tidak makin muncul kelompok-kelompok yang radikal di negara kami dan bahkan juga di banyak negara, karena mereka merasa kalah dan dipermalukan, sehingga harus memilih dan menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam memperjuangkan keadilan yang diyakininya. 





Saya yakin tantangan berat yang saya hadapi ini juga dihadapi oleh banyak pemimpin lain di dunia, termasuk para pemimpin politik, pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi kemanusiaan dan para pemimpin agama. 





Saya khawatir, karena keacuhan dan kurangnya tanggung jawab kita semua, maka generasi-generasi yang terlahir saat ini kelak akan menjadi generasi yang keras, penuh dendam dan kebencian. Bisa-bisa pula menjadi generasi yang haus darah dan peperangan. Kalau ini yang terlahir dan terjadi di abad ke-21 ini, maka terciptanya perdamaian dan keamanan internasional yang menjadi semangat dan jiwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya akan menjadi sesuatu yang sangat ilusif.





Dengan itu semua, pandangan dan usulan konkrit saya sebagai pemimpin Indonesia adalah agar dalam hitungan hari, kalau perlu hitungan jam, para penentu perdamaian dan keamanan dunia, yaitu Dewan Keamanan PBB, utamanya para pemegang Hak Veto, dan negara-negara kunci di kawasan Timur Tengah, segera duduk bersama dan benar-benar bisa memaksakan dilakukannya gencatan senjata. 





Semangatnya adalah "peace making". Setelah gencatan senjata dapat diwujudkan, segera diintensifkan bantuan kemanusiaan dan proses politik yang lebih inklusif dan konklusif. Jangan sampai setelah peperangan yang dengan susah payah bisa diakhiri, proses politik itu di lupakan kembali. Jangan mengulangi kesalahan masa lalu. 





Dengarkan jeritan rakyat Palestina, utamanya yang tinggal di jalur Gaza yang sudah cukup menderita akibat blokade yang diberlakukan selama ini, serta pandangan Fatah dan Hamas yang semoga makin menyatu, realistis dan konstruktif. Dengarkan pula harapan rakyat Israel agar tidak dihantui oleh rasa takut sepanjang masa setelah tetangganya insya Allah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. 





Konflik kedua bangsa itu akan berakhir, menurut hemat saya, jika kemerdekaan Palestina telah benar-benar dicapai dan kemudian Israel tidak merasa terancam olehnya. Tentunya Israel yang semakin memiliki hati dan semangat persahabatan, dan bukan yang selalu bersikap superior karena merasa negaranya jauh lebih kuat. 





Negara lain juga harus peduli, tergerak dan ikut berkontribusi bagi terwujudnya cita-cita mulia ini. Indonesia menawarkan diri dan selalu siap untuk dilibatkan dalam proses pengakhiran tragedi kemanusiaan yang penting ini.





lnilah saudara-saudaraku bangsa sedunia, peluang sejarah yang terbuka. Jangan kita sia-siakan, agar kita tidak dikutuk dan disalahkan oleh generasi mendatang oleh anak cucu kita.





Selamat ldul Fitri 1435 Hijriyah kepada kaum muslimin di Palestina semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya. Juga salam damai dan persahabatan untuk semua umat beragama dan bangsa-bangsa sedunia.



Jakarta, 29 Juli 2014

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Penulis Kondang Spanyol: “Wajar Bangsa Yahudi Selalu Terusir”





Sebuah artikel anti-Semit (anti Yahudi) terbit di harian El Mundo Spanyol edisi 28 Juli 2014. Antonio Gala, penulis ternama Spanyol yang menulis artikel itu, mengecam keras segala tindak tanduk Israel yang membuat mereka tidak disukai dunia.



Antonio menyatakan bangsa Yahudi memang tidak ingin hidup berdampingan. Mereka, kata Antonio, lebih memilih untuk mempertahankan kehidupan komunitas berdarah tak terlihatnya.






Antonio Gala

"Jadi tidak aneh jika mereka (bangsa Yahudi) kerap kali terusir (dari bangsa lain termasuk Spanyol)," kata Gala seperti dikutip BBC, Rabu (30/7).



Yang mengejutkan, tulis Gala, mereka terus bertahan dan melawan. Entah mereka memang bukan orang-orang baik atau (kepala) mereka sudah diracuni.



Dalam artikel berjudul "The Chosen" (Yang Terpilih) itu, Gala mengaitkan serangan brutal Israel atas Gaza yang masih berlangsung hingga saat ini.



Sedikitnya, 1.000 warga sipil dan anak-anak Palestina meninggal akibat gempuran tersebut.



Semestinya, jelas Gala, bangsa Yahudi bisa menciptakan banyak kebaikan bagi umat manusia di dunia. "Saya bukan seorang racist," kata Gala seperti dikutip Times of Israel.



Gala bukan penulis kacangan di negeri matador itu. Pada 1989 ia dianugerahkan the Leon Felipe Prize for Civic Values. Secara konsisten ia menentang penjajahan dan serangan brutal Israel ke Jalur Gaza, Palestina.



Pada abad ke-15 dan 16 ratusan ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol dan Portugal dalam periode yang disebut "Penyelidikan". Gereja Katolik dan pemimpin lokal kedua negara menjadi pelopor adanya gerakan pengusiran bangsa Yahudi secara masif ini. (*ROL)
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Sunday, July 27, 2014

Berharap Ada Perwira Indonesia di Jalur Gaza



KONFLIK di Jalur Gaza antara Palestina dan Israel mengingatkan Letjen (pur) Rais Abin pada peristiwa 36 tahun silam. Saat itu dia dipercaya sebagai panglima pasukan perdamaian PBB. Kiprahnya ikut mendamaikan Mesir dan Israel membuahkan Perjanjian Camp David.


***


PERISTIWA penandatanganan Perjanjian Camp David itu tidak bisa dilupakan Rais Abin. Perjanjian tersebut telah meredakan konflik antara Mesir dan Israel yang menduduki wilayah Gurun Sinai.


Perjanjian Camp David juga nyaris berdampak kepada perdamaian Israel-Palestina kalau saja presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, tidak terbunuh.


Saat ditemui di kantor pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di kawasan Semanggi, Jakarta, Selasa lalu (22/7), wajah Rais tampak berseri-seri. Dia selalu bersemangat setiap kali diminta bercerita tentang memori ketika memimpin pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai, Mesir.


Hingga saat ini Rais tercatat sebagai satu-satunya perwira militer Indonesia yang pernah memimpin pasukan perdamaian PBB. Apalagi, misi yang diemban sangat penting: mengawal perdamaian Mesir-Israel.


Ruang kerja Rais di lantai 11 Plaza Semanggi cukup lapang dan tidak banyak berisi perabotan. Selain meja kerja, tampak rak kayu untuk menyimpan kenang-kenangan penghargaan yang pernah diraihnya. Ada pula bendera LVRI, meja rapat, dan sofa untuk menerima tamu.


Saat ini Rais menjabat ketua umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI. Di usianya yang tahun ini akan mencapai 88 tahun, Rais masih terlihat prima. Hanya keriput di wajah dan tangannya yang tidak bisa ditutupi bahwa pejuang kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu sudah lanjut usia.


Rais mengharumkan nama Indonesia di kancah politik keamanan internasional saat terlibat dalam pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai pada 1976–1979. Dia dipercaya PBB sebagai panglima pasukan perdamaian yang mengomandoi 6.000 tentara dari tujuh negara perwakilan lima benua.


Selain tentara Indonesia, ada yang dari Polandia, Swedia, Finlandia, Kanada, Australia, dan dua negara Afrika (Senegal dan Ghana). Kiprah Rais dalam pasukan perdamaian itu dimulai saat dia bermain tenis dengan koleganya, Pangdam Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto. Kala itu Rais masih menjabat wakil komandan Seskoad berpangkat brigjen.


Rais menuturkan, di tengah permainan itu mendadak Himawan harus menerima telepon dari Mabes ABRI (kini TNI). Tidak lama kemudian, telepon diberikan ke Rais. Rupanya, yang menelepon adalah Asisten Pembinaan Personel ABRI Susilo Sudarman. ”Saya diminta menjadi kepala staf UNEF (United Nation Emergency Force) di Gurun Sinai,” tuturnya.


Alumnus Seskoad Bandung dan Australia itu pun tidak kuasa menolak perintah tersebut karena penunjukan itu tidak bernada perintah, melainkan meminta tolong. Usut punya usut, ternyata Himawan yang merekomendasikan Rais kepada Susilo Sudarman saat menerima telepon. ”Kalau diingat itu kayak joke saja,” ujarnya seraya tertawa.


Rais pun berangkat ke Sinai pada 28 Desember 1975 dan memulai tugas awal Januari 1976 pada misi UNEF II. Karena kiprahnya yang dinilai baik dan mendapat persetujuan dari seluruh anggota Dewan Keamanan PBB, setahun kemudian Rais ditunjuk sebagai panglima UNEF II dengan pangkat mayjen atau bintang dua.


Dia menggantikan Letjen Bengt Liljenstrand asal Swedia yang mengundurkan diri pada 1 Desember 1976. Penunjukan Rais dilakukan lewat surat kawat pribadi dari Sekjen PBB kala itu, Kurt Waldheim. Tugas Rais adalah mendamaikan Mesir dan Israel yang bertikai gara-gara pendudukan Israel atas Gurun Sinai yang merupakan bagian teritori Mesir.


Bukan hal mudah untuk mendamaikan kedua negara yang sama-sama mengklaim Sinai sebagai bagian wilayahnya. Apalagi, posisi Rais saat itu tergolong sulit. Sebab, dia adalah warga negara Indonesia, dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.


Dengan susah payah, akhirnya Rais berhasil menemui Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres. Peres kemudian menjadi presiden Israel hingga Kamis lalu (24/7) mengundurkan diri dari jabatannya itu di usia 90 tahun.


Persoalan belum berhenti sampai di situ. Menurut purnawirawan kelahiran 15 Agustus 1926 tersebut, meyakinkan pihak Mesir juga sulit. Blokade-blokade oleh tentara Mesir membuat dia dan pasukannya tidak bisa leluasa bergerak.


Mantan Dubes RI di Malaysia dan Singapura itu akhirnya menemui panglima militer Mesir untuk meminta keleluasaan bergerak. Rais mengancam akan mundur dari Sinai jika aktivitas pasukannya dipersulit.


Setelah blokade-blokade dibuka, Rais pun berkali-kali mengundang kedua pihak untuk berunding di markas UNEF di Sinai. ”Tiap dua minggu sekali saya adakan rapat dan selalu di situ (Sinai) karena Sinai merupakan wilayah PBB,” tutur bapak 3 putra, kakek 7 cucu, dan buyut 3 cicit itu.


Setelah Rais beberapa kali memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak, tanda-tanda perdamaian mulai muncul. Lalu, dibuatlah konsep perjanjian damai yang akhirnya dinamai Camp David. Perjanjian tersebut sebenarnya memiliki benang merah dengan Palestina.


Ada dua kerangka perjanjian yang disusun. Kerangka pertama berkaitan dengan perdamaian di Timur Tengah, dalam hal ini penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza dan Tepi Barat serta melarang pendirian permukiman baru Yahudi. Kerangka kedua berhubungan dengan perdamaian antara Mesir dan Israel. Pada akhirnya, hanya kerangka kedua yang ditandatangani.


Menjadi panglima pasukan perdamaian PBB membuat Rais dikenal banyak pemimpin dunia. Dia cukup akrab dengan Anwar Sadat dan pemimpin PLO Palestina Yasser Arafat.


Sebagai pejabat teras di PBB, dia bisa berkomunikasi langsung dengan Kurt Waldheim yang menjadi Sekjen PBB saat itu. Selama masa perundingan Mesir dan Israel, Gurun Sinai menjadi wilayah kekuasaan Rais.


Suami Dewi Asiah itu menuturkan, pada 1981 Anwar Sadat tewas karena dibunuh rakyatnya yang tidak setuju atas kunjungan Sadat ke Jerusalem. Itulah hal yang sangat disayangkan Rais. ”Sadat saat itu sedang berupaya untuk mengembalikan kedaulatan Palestina sesuai Resolusi PBB No 242 Tahun 1967,” tuturnya.


Kala itu Sadat merupakan satu-satunya pemimpin negara di Timur Tengah yang suaranya didengar Israel dan Amerika Serikat. Munculnya Resolusi 242 yang mewajibkan penarikan pasukan Israel dan mengatur batas antara Israel-Palestina juga tidak lepas dari lobi yang dilakukan Sadat.


Penerus Sadat, Husni Mubarak, ternyata tidak bisa tegas memperjuangkan resolusi tersebut. Penjajahan atas Palestina pun terus berlangsung sampai sekarang dengan kekuatan yang tidak sebanding. Menurut Rais, sebenarnya roket-roket pejuang Palestina tidak memberikan dampak apa pun kepada Israel selain perasaan risi.


Keberadaan Hamas dengan pasukannya, Brigade Izzudin Al Qassam, juga tidak lepas dari perang enam hari pada 1967. Gaza saat itu adalah tempat penampungan yang disediakan PBB bagi para pengungsi palestina yang terusir dari tanah airnya. Maka, tidak heran jika saat ini Hamas sangat membenci Israel.


Bagi Rais, untuk mengembalikan kedamaian di bumi Palestina, hanya ada satu solusi. ”Kembalikan batas negara sesuai Resolusi 242. Kalau tidak, konflik ini tidak akan pernah berakhir,” ucapnya. Resolusi 242 mengatur batas kedua negara, Israel di utara dan Palestina di selatan.


Karena itu, dia mengharapkan presiden Indonesia punya keberanian untuk mengungkit kembali resolusi tersebut di hadapan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Perhatian Indonesia ke Palestina saat ini sudah cukup baik, namun akan lebih signifikan dampaknya jika bisa membuat PBB membahas lagi Resolusi 242.


Di luar kiprahnya sebagai panglima pasukan perdamaian, Rais punya peran penting di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu Rais muda menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat yang menghadapi upaya agresi Belanda. Dia dan beberapa rekannya ditugasi menyuplai senjata untuk tentara maupun pejuang rakyat.


Dia diminta untuk menyelundupkan senjata dari Tumasek (Singapura). Untuk menyelundupkan senjata tersebut tanpa ketahuan Belanda, Rais dkk mengambil jalur laut. ”Kami berangkat dari Tegal (Jateng) menggunakan perahu yang panjangnya hanya 5 meter,” kenangnya.


Pilihan itu terpaksa diambil demi keselamatan. Saat itu Laut Jawa dikuasai armada AL Belanda. Jika nekat menggunakan kapal besar, sudah pasti mereka akan diserang. Upaya mereka tidak sia-sia karena berhasil menuntaskan misi tersebut.


Di usianya yang hampir satu abad, Rais kini menikmati kesibukannya di LVRI. Saat ditanya apa kunci kebugarannya, dia menjawab kesehatan fisik dan pikiran. ”Saya tidak punya ambisi, tidak ingin tenar,” ujarnya.


Bahkan, Rais mengaku tidak memiliki rumah di Indonesia. Ya, rumah yang saat ini ditempati Rais di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, adalah rumah milik istrinya. Rumah tersebut merupakan warisan mertua Rais. Satu-satunya rumah milik Rais berada di Sinai. Rumah tersebut merupakan pemberian PBB sebagai fasilitas jabatannya menjadi panglima pasukan perdamaian.


Satu hal yang masih menjadi keinginan Rais adalah melihat perwira TNI generasi sekarang menjabat panglima pasukan perdamaian PBB seperti dirinya. ”Kita punya banyak perwira hebat, saya yakin kita bisa punya peran yang lebih besar dalam perdamaian,” tandasnya. (*jpnn)






DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Saturday, July 26, 2014

Anti-Yahudi Semakin Marak di Eropa





Kelompok anti-Yahudi semakin berkembang di Eropa. Mereka bahkan menyerang satuan polisi Jerman dan mengeluarkan ejekan menyakitkan.



Seperti dilaporkan harian Jerman Deutche Welle Selasa (22/7/2014), para demonstran anti-Israel itu membawa spanduk yang dikutip dari judul koran Tagesspiegel. Bunyinya ‘’Polisi Berlin Jadi Pengecut di Depan Pembenci Yahudi.



Bahkan kelompok lain yang terdiri dari warga Arab berteriak, ‘’Yahudi, Yahudi, Babi Pengecut. Ayo Keluar dan Berantem Satu Lawan Satu’’.



Sementara di sejumlah kota Eropa protes anti Yahudi berubah jadi aksi kekerasan. Di Prancis, baku hantam terjadi antara petugas polisi dengan pengunjuk rasa di depan sebuah sinagoga akhir pekan lalu.





Sementara di Berlin, seorang ulama Muslim di Masjid Al-Nur diperiksa karena memasang video untuk membunuh kaum Yahudi. Hal ini membuat Hadas-Handelsman, Dubes Israel di Jerman was-was.



‘’Kami bukan menentang aksi demo, tapi jika sampai bentrok dengan polisi, sudah tak bisa diterima,’’ kata Hadas. Bahkan, ia juga mendengar aksi demo berslogan anti-semit. ‘’Kirim Yahudi ke Kamar Gas!’’



Konflik Gaza yang menelan 500 korban Palestina menyebabkan sentimen anti Israel di Eropa semakin kental. Siapapun yang berdemo di jalanan merupakan solidaritas terhadap Palestina yang menjadi korban.



‘’Itu sebabnya mengapa kematian 500 korban membuat 10 ribu orang turun ke jalan,’’ kata Stephan Grigat, pengajar di Institut Studi Yahudi di University of Vienna.



‘’Lain halnya dengan 100 ribu korban di Suriah,’’ katanya menambahkan.





Sementara itu, banyak warga Jerman menilai Pemerintahan Kanselir Angela Merkel terlalu berpihak ke Israel. Separuh responden poll pendapat yang digelar majalah ‘’Stern’’ menyalahkan Hamas dan Israel.



86 persen menyebutkan agar Jerman tidak berpihak ke Israel. Aksi demonstrasi pro-Gaza di Jerman dan Eropa semakin membesar. Lebih-lebih dengan tibanya peringatan ‘’Hari Quds’’ Jumat (25/7/2014).



Setiap tahun demo anti-Israel sedunia digelar untuk memperingati pembebasan Yerusalem dari ‘’Pendudukan Zionis’’





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Wednesday, July 16, 2014

Komentar Quraish Shihab sebut “Rasulullah tak Dijamin Masuk Surga”, Terus Menuai Kontroversi





Tayangan Program Tafsir Al-Misbah yang dibawakan Quraish Shihab di Metro TV pada Sabtu (12/7) terus menunai kontroversi. Itu setelah pakar hadist terkemuka tersebut menyinggung bahwa Nabi Muhammad SAW. tidak mendapat jaminan tempat di surga.



Pernyataan itu dikeluarkan alumnus Universitas Al Azhar Kairo itu ketika ditanya sang pembaca acara bahwa Rasulullah adalah manusia mulia yang dijamin masuk surga.



Berikut kutipan dialog tersebut:



“Tidak benar. Saya ulangi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Surga itu hak prerogratif Allah. Memang kita yakin bahwa Beliau mulia. Mengapa saya katakan begitu?” 



Quraish Shihab melanjutkan dengan sebuah riwayat: “Karena ada seorang sahabat Nabi dikenal orang, terus teman-teman di sekitarnya berkata, 'bahagialah Engkau akan mendapat surga'. Kemudian Nabi dengar, siapa yang bilang begitu, Nabi berkata, "tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya", dia berkata baik amalnya akan masuk surga. Surga adalah hak prerogratif Tuhan,” ujar Quraish Shihab.



Dia melanjutkan, “Kalau ditanya, kamu pun tidak wahai Muhammad? "Kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya". Jadi kita berkata, kita berkata dalam konteks surga dan neraka tidak ada yang dijamin Tuhan, kecuali kita katakan bahwa Tuhan menulis di dalam kitab sucinya bahwa yang taat itu akan dapat surga. Ada ayatnya,” tambahnya.



Penjelasan mantan menteri agama tersebut sempat ramai dibicarakan di lini masa Twitter.



Klarifikasi dari Quraish



Terkait masalah kontroversi tersebut, Quraish Shihab memberikan klarifikasi langsung melaui situs resminya pada Selasa (15/7) dalam judul 'Tentang Tayangan Tafsir al-Mishbah 12 Juli 2014'.



''Uraian tersebut dalam konteks penjelasan bahwa amal bukanlah sebab masuk surga, walau saya sampaikan juga bahwa kita yakin bahwa Rasulullah akan begini (masuk surga),'' kata Quraish Shihab dalam situs resminya quraishshihab.com.



Quraish Shihab mendasarkan penjelasannya pada hadist antara lain “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya “Engkau pun tidak?”, beliau menjawab “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.”



Quraish Shihab mengatakan hal tersebut karena amal baik bukan sebab masuk surga tapi itu hak prerogatif Allah SWT. Uraian di atas, lanjutnya, bukan berarti tidak ada jaminan dari Allah bahwa Rasul tidak masuk surga.



''Saya jelaskan juga di episode yang sama bahwa Allah menjamin dengan sumpah-Nya bahwa Rasulullah SAW akan diberikan anugerah-Nya sampai beliau puas, yang kita pahami sebagai surga dan apapun yang beliau kehendaki. Wa la sawfa yu’thika rabbuka fa tharda,'' katanya.



''Itu yang saya jelaskan tapi sebagian dipelintir, dikutip sepotong dan di luar konteksnya. Silakan menyimak ulang penjelasan saya di episode tersebut. Mudah-mudahan yang menyebarkan hanya karena tidak mengerti dan bukan bermaksud memfitnah,'' kata Quraish Shihab. (*ROL/quraishshihab.com)




















Monday, July 14, 2014

“Kairo Tak Ingin Hamas jadi Pemenang”







Penulis Yordania, Uraib Rantawi menegaskan bahwa Kairo menyikapi agresi Zionis yang terjadi terhadap Jalur Gaza saat ini dengan dingin tidak biasa, untuk menghentikan perang dan kurang solider baik di tingkat resmi maupun tingkat rakyat, bahkan dibandingkan dengan apa yang terjadi pada masa Presiden Mubarak.






Dia mengatakan, di masa Mubarak diplomasi intelijen bergerak dengan sangat cepat dan menggesa tercapainya gencatan senjata. Konvoi bantuan dan delegasi solidaritas rakyat diizinkan pergi ke Jalur gaza, termasuk delegasi non Mesir. 





Gerbang Rafah juga dibuka untuk para pasien, korban luka dan mereka yang melakukan perjalanan secara umum, meskipun hubungan rezim Mesir saat ini dengan Hamas dan perlawanan Palestina secara umum tidak bagus. Namun rezim kala itu dibenci rakyat, bahkan sangat terisolir. 





Karena kekhawatiran dampak agresi Zionis ke Gaza terhadap opini publik Mesir, maka bergerak dengan cepat dan kuat.





Dia menambahkan, di era Presiden Mursi diplomasi intelijen Mesir berjalan normal, bersamaan dengan keberanian solidaritas rakyat, dan lebih bagus karena hubungan kedekatan ideologi antara pemerintah Mesir yang baru (Ikhwan Mesir) dengan gerakan Hamas (Ikhwan Palestina). 





Demo terjadi menyeluruh di Kairo, kedubes Zionis dikepung, ada upaya intensif yang berakhir dengan perjanjian November, untuk menghentikan serangan, yang disusul kemudian dengan perkembangan di antaranya adalah kunjungan Misy’al ke Jalur Gaza.





Sedang di era as Sisi saat ini sangat berbeda. Diplomasi Mesir kelihatan sangat berat mensikapi agresi Zionis. 





Pernyataan luar negeri Mesir justru berisi reaksi tidak bertanggung jawab atas darah orang-orang Palestina yang tumpah di jalan-jalan Gaza dan perkampungannya. Gerakan solidaritas rakyat sangat minim di jalan-jalan Kairo, Alexandria dan kota-kota lainnya.





Gerbang Rafah dibuka dengan malu-malu, sementara dan terputus-putus. Ada keputusan untuk mencegah delegasi solidaritas dan konvoi bantuan untuk masuk ke Jalur Gaza.



Sebagian media dengan tidak malu-malu “berpartisipasi dalam agresi ke Jalur Gaza”. Semua rakyat disamakan dengan Hamas dan hubungan khususnya dengan Ikhwan Mesir yang dianggap 'Teroris'.




















Saturday, July 12, 2014

Bukit Sderot, Gambaran Karakter Keji Yahudi Israel



Ketika ratusan warga Gaza meregang nyawa, Penduduk Sderot -- kota di selatan Israel -- sekitar 50 orang keluar rumah membawa kursi, menaiki sebuah bukit, untuk menyaksikan pemboman Israel terhadap penduduk Jalur Gaza.


"Kami di sini untuk menyaksikan Israel menghancurkan Hamas," ujar Eli Chone, Yahudi AS berusia 22 tahun yang kini tinggal di Israel, kepada surat kabar Kristeligt Dagblad.



Bukit itu telah berubah menjadi bioskop nyata, yang menawarkan pemandangan langsung aksi pemboman pesawat Israel ke permukiman padat Gaza City. Seluruh dari 50 yang berada di bukit itu bersorak, setiap kali terdengar ledakan bom dan kilatan cahaya.



Sderot Bioscop, demikian wartawan Allan Sorensen menyebutnya. Ia pula yang kali pertama mempublikasikan gambar Sderot Bioscop di Twitter-nya (@allansorensen72).



"Lihat di sana," ujar Chone, seraya menunjuk ke sebuah titik di langit. "Pesawat itu sedikit menukik. Itu artinya mereka akan melakukan pemboman jarak pendek."



Seluruh yang berada di atas bukit terdiam sejenak. Tiba-tiba ada kilat di langit, tiang api tegak di atas Gaza, dan bukit Sderet tergoncang sedikit. Lalu seluruh dari 50 orang di bukit itu bersorak, bertepuk tangan, dan larut dalam kegembiraan.



Entah sejak kapan mereka menjadikan bukit itu sebagai bioskop. Yang juga tidak diketahui adalah apakah jumlah penontonnya terus meningkat atau menurun.





Yang pasti, Sderot Bioscop menjadi virus di media sosial setelah Allan Sorensen memposting hasil jepretannya di Twitter, Rabu (10/7). Dalam dua hari, postingan telah retweeted 7000 kali, dan mengundang banyak respon.



Salah satunya; "Moral orang-orang dalam foto itu telah miring. Mereka melihat pembunuhan sebagai pertunjuan spektakuler."



Lainnya; "Sangat tidak manusiawi, keji, dan menjijikan. Israel harusnya malu." Satu pengguna micro blogging lainnya menulis; orang-orang di dalam gambar itu sedang mengembangkan budaya pembantaian."



Kabar terakhir menyebutkan 121 warga sipil Gaza, kebanyakan anak-anak , tewas dan 750 terluka. Hampir semua situs berita internasional menayangkan gambar-gambar memilukan anak-anak Palestina yang menjadi korban.



Dunia trenyuh, marah, dan mengutuk, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak pula Amerika Serikat (AS), patron Israel, kendati Presiden Barrack Obama telah menawarkan diri sebagai penengah.



Di Bukit Sderot, orang-orang yang menyaksikan pemboman itu dengan suka cita punya penjelasan sendiri untuk tidak merasa kasihan dengan bocah-bocah Palestina yang menjadi korban.



"Jujur saja. Lihat orang-orang di kota ini. Mereka setiap hari berurusan dengan kematian," ujar Eli Chone.



Aaron Dew, warga Jerusalem, juga punya alasan sama. Ia sengaja berkendara sejauh 100 mil dari Jerusalem untuk menikmati pertunjukan perang di Bukit Sderot.



"Senang sekali berada di sini. Benar-benar menyenangkan," ujarnya.



Tamar Hermann, profesor ilmu politik Universitas Tel Aviv, punya penjelasan menarik. Menurutnya, perang dan hiburan berjalan beriringan sepanjang di sebagian besar sejarah dunia. Bahkan di Timur Tengah, ada orang yang menikmati perang.



"Menjadikan perang sebagai hiburan memang bukan sesuatu yang harus dipertahankan, tapi itu refleksi tetang visi perang yang memiliki akar sejarahnya," ujar Hermann.



Yang terlihat di Bukit Sderot, demikian Hermann, adalah gambaran karakteristik masyarakat Israel.



"Masyarakat Israel umumnya bermentalitas korban," demikian Hermann. "Mereka cenderung melihat pihak lain di dalam konflik dengan Israel sebagai penjahat seutuhnya."



Orang Israel, masih menurut Hermann, tidak memiliki perasaan belas kasihan terhadap anak-anak Palestina. Jika ada yang memiliki perasaan itu, mungkin hanya kalangan terdidik di Tel Aviv.



"Di selatan Israel, seperti di Sderot, orang-orang mungkin lebih pandai. Namun mereka tidak pernah tahu arti hidup di bawah pemboman konstan," Hermann mengakhiri.





Friday, June 27, 2014

Tulis Surat Terbuka untuk Jokowi, Putri Amien Rais Dicaci-maki Pro-Jokowi






Putri mantan ketua umum PP Muhammadiyah Amien Rais, Tasniem Fauzia membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Jokowi. Dia menuliskannya dalam sebuah catatan di akun Facebook pribadinya, Tasniem Fauzia.



Dalam artikel yang ditulisnya dari Kota Nijmegen, Belanda itu, Tasniem mempertanyakan mengapa Jokowi yang dihormatinya begitu dipuja-puja Amerika Serikat. Tiba-tiba saja, kata dia, Jokowi dimuat di majalah Fortune. Karena itu, ia mempertanyakan, bagaimana nantinya Jokowi bisa duduk doplomasi dengan petinggi negeri Paman Sam itu.



Nyatanya, tulisan putri keempat Amien itu mendapat banyak komen negatif dari para pendukung Jokowi. Hal itu terlihat dari foto profil pemberi komentar yang rata-rata bergambar angka 2 dengan warna merah di sebelahnya.



Bahkan, tidak sedikit yang mencaci-maki ayah Tasniem gara-gara ia menulis surat kepada capres yang diusung PDI Perjuangan itu. Hingga kini, sedikitnya lebih 500 komentar dan 900 akun pertemanan yang menyukai artikel tersebut.



Berikut isi surat terbuka Tasniem:



Jika anda, siapa saja yang membaca ini kenal dengan Bapak Jokowi, Mohon sampaikan surat ini kepada beliau.



Suratku untuk Yang Terhormat Bapak Jokowi,



Yang saya hormati Bapak Jokowi calon presiden Indonesia,



Dear Pak Jokowi, ini adalah surat dari salah satu anak bangsa Indonesia, yang ingin menyatakan beberapa hal kepada bapak, semoga ketika bapak membaca surat ini, bapak sedang sendiri, dan bisa menggunakan surat ini untuk perenungan bapak secara pribadi.



Yang terhormat bapak Jokowi, ketika anda mengucapkan sumpah di bawah Al-Quran untuk menjadi gubernur DKI Jakarta, apakah anda masih ingat itu Pak? Mengapa bapak seolah-olah lupa dengan janji bapak kepada masyarakat dan juga janji bapak kepada Tuhan YME untuk melaksanakan tugas bapak hingga Jakarta beres?Saya hanya berharap Bapak masih ingat janji dan sumpah itu. Sebuah sumpah dan janji bukankah harus ditepati Pak…



Yang terhormat bapak Jokowi, apakah menurut bapak, menurut hati nurani bapak yang paling terdalam, bapak mampu memimpin 250juta manusia dan rakyat Indonesia? Sedangkan tanggung jawab di Jakarta saja belum terpenuhi, Bapak malah mau mencoba mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi? apakah anda yakin MAMPU mengemban amanat 250 juta rakyat Indonesia yang kebanyakan masih kelaparan ini bapak?



Saya mohon bapak bisa menggunakan hati nurani Bapak,pikiran jernih Bapak, bertanya kepada diri sendiri “Apakah saya mampu? Apakah saya punya kapabilitas untuk menjadi pemimpin dari tugas dan amanah yang tidak main-main ini?”



Yang terhormat bapak Jokowi, saya mohon anda mau menanyakan kepada batin bersih dan batin suci bapak, untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah jika nanti anda terpilih menjadi presiden, tidak akan ada lagi pengaruh dari Ibu Megawati di mana Bapak punya keterikatan yang sangat besar dengan beliau, bahkan kita semua tahu ketika beliau menyuruh anda menjadi capres, anda pun harus nurut kepada Ibu Megawati, dan melanggar sumpah bapak ketika menjadi gubernur Jakarta?



Bapak, mohon tanyakan kepada sanubari bapak yang terdalam, dari mana anda dan team anda akan mendapatkan dana yang begitu besar untuk melakukan program-program yang nanti akan anda implementasikan jika menjadi presiden, semua program yang bapak sebutkan ketika debat beberapa waktu silam, seperti pembelian drone, program kesehatan, pendidikan, dan lainnya itu semua, butuh dana, dan dari mana asalnya selain dari menaikkan pajak Pak?



Kalau dari Pak Prabowo sudah sangat jelas, akan diamankannya kekayaan alam bangsa Indonesia yang bocor yang nilainya ribuan trilyun itu per tahunnya untuk dijadikan modal program-program kebaikan pendidikan dan kesehatan. Kalau dari Bapak, dari mana Pak dananya? Sedangkan sekarang APBN kita sudah dalam kondisi defisit?



Pak Jokowi, mohon anda tanyakan ke lubuk hati anda yang paling terdalam pertanyaan ini, "Apakah saya bisa berjanji kepada diri saya sendiri dan Tuhan YME untuk membela NKRI dari penjajahan asing dalam bentuk penguasaan kekayaan alam kita, sumber daya minyak, gas, tembaga, emas,semua tambang mineral kita, kekayaan darat, laut, udara Indonesia?" dan "Apakah saya sanggup dan punya keberanian untuk melakukan renegosiasi dengan pihak asing yang mengklaim pulau-pulau Indonesia sebagai daerah wilayah mereka?Apakah saya yakin saya punya kemampuan untuk memimpin dan mempertahankan keutuhan bangsa kita ini?"



Bapak Jokowi yang saya hormati, anda begitu disanjung-sanjung oleh Amerika, anda dimasukkan di majalah Fortune misalnya, dan kita tahu kebanyakan penguasa kekayaan alam di Indonesia ini adalah negara Amerika yang selalu memuji-muji anda. Apakah jika nanti anda harus duduk berdiplomasi dengan negara amerika atau negara adidaya mana pun yang telah menguasai hajat hidup kami orang banyak ini, anda bisa LEBIH mengutamakan kepentingan kami sebagai rakyat Indonesia?



Pak Jokowi, ada satu hal yang Amerika lupa, Founding Father kita pernah berpesan kepada kita semua bangsa Indonesia: "Ingatlah...ingatlah...ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti, atau dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuja-puja asing, karna ia akan memperdayaimu"



Bapak Jokowi yang terhormat, ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal batin kami, dalam karir Pak Jokowi beberapa tahun terakhir ini, Bapak sering blusukan ke tempat-tempat, dan sering diikuti dan diliput oleh wartawan. Pak Jokowi juga sempat masuk got dalam suatu acara, dan di situ banyak sekali wartawan meliput.



Yang ingin saya tanyakan pak, dan ini mohon di jawab dengan hati nurani saja, apakah tidak terbesit sama sekali, bapak kemana-mana, sering ada wartawan yang meliput termasuk ketika masuk got ini, apakah ini ikhlas seutuhnya, atau karna di situ ada media supaya bisa jadi bahan cerita Pak? Bukankah akan lebih terpuji Pak jika blusukan-blusukan itu tidak perlu diliput dan disiarkan di semua media massa?



Bapak Jokowi yang saya hormati, kemarin di debat terakhir tentang Pertahanan bangsa, bapak bilang, “Akan kita bikin rame kalo ada yang mau ngeclaim wilayah kita jadi wilayah mereka”, dengan bapak bilang seperti ini, mohon tanyakan kepada hati bapak : "Apakah saya sanggup untuk mengorbankan jiwa dan raga saya sendiri untuk tumpah darah Indonesia seperti yang telah pak Prabowo lakukan berkali-kali dalam jejak hidupnya?"



Bapak Jokowi, semoga bapak mau merenungkan pertanyaan-pertanyaan, semoga anda berkenan menjawab surat ini dengan hati nurani bapak. Surat ini tidak perlu dibalas, surat ini hanya untuk perenungan pribadi anda sebagai bangsa Indonesia yang tentunya ingin Indonesia ini menjadi negara yang bermartabat, berdaulat, adil, makmur, dan rakyatnya tidak terjajah lagi oleh bangsa asing. Sekali lagi, tanyakan kepada diri sendiri "Apakah saya mampu?"



Surat tulus dari anak bangsa Indonesia,

Nijmegen,

26 Juni 2014

Tasniem Fauzia



(*sumber: ROL)


















Thursday, June 5, 2014

Haramkan Perda Syariat, PDIP Bisa Dicap Anti-Islam




Ketua Tim Hukum dan Advokasi Jokowi-JK, Trimedya Pandjaitan





Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla jika kelak terpilih bakal mengharamkan pemerintahan daerah menerbitkan peraturan daerah (Perda) yang bernuasa syariat Islam. Blunder baru pasangan Jokowi-JK?






Ketua Tim Hukum dan Advokasi Joko Widodo-Jusuf Kalla Trimedya Pandjaitan mengatakan jika kelak tokoh jagoannya menang dalam Pilpres tidak akan mendukung pemberlakukan perda yang beraroma syariat Islam. Bagi dia, Perda Syariat Islam bertentangan dengan Pancasila. 





"Ideologi PDIP Pancasila 1 Juni 1945. Pancasila sebagai sumber hukum sudah final," kata Trimedya di Kantor DPP PDI Perjuangan Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (4/6/2014).





Lebih lanjut Trimedya mengatakan, Perda berbasis syariat Islam ini bisa mengganggu kemajemukan NKRI. Menurut dia, Perda Syariat dapat menciptaan pengotak-kotakan di dalam masyarakat.





"Ke depan kami berharap Perda syariat Islam tidak ada. Ini bisa mengganggu kemajemukan karena menciptakan pengotak-ngotakan masyarakat," terang Trimedya. Ia mengatakan khusus untuk Aceh tidak ada soal pemberlakukan syariat karena daerah otonomi khusus.





Sementara anggota Tim Advokasi Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta Ahmad Yani mengatakan pernyataan Trimedya Pandjaitan menunjukkan tidak paham undang-undang. 





"Trimedya harus paham dulu UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, UU Otonomi Daerah yang menyebutkan bagaimana menyerap hukum adat dan lokal yang menjadi bagian sistem hukum nasional," kata Yani.





Secara tegas Yani menyebut, gagasan yang digulirkan Joko-Kalla merupakan sikap anti-Islam. Padahal, kata Yani, kita sebagai bangsa tidak boleh antiagama apapun. "Kalau seperti itu sangat anti-Islam," tandas politikus PPP ini.





Ia menegaskan nilai-nilai Pancasila terkait dengan Ketuhanan Yang Maha Esa tercantum dalam Pasal 29 UUD 1945 yang memiliki semangat tidak ingin mempertentangkan antara agama dengan pancasila. "Spirit nilai Pancasila diilhami oleh nilai-nilai agama," tegas Yani.





Pernyataan Trimedya ini tentu mengejutkan dan berpotensi menyulut protes dari kelompok Islam di Indonesia. Karena dalam praktiknya tidak ada persoalan dalam penerbitan Perda Syariat Islam. 





Yang terpenting, Perda harus melalui prosedur pembentukan peraturan perundang-undangan dengan melibatkan DPRD sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta memiliki nilai kemanfaatan bagi publik.





Larangan Jokowi-JK tentu bermakna bias. Karena dalam praktiknya, di lapangan perda yang bernuansa agama tidak hanya didominasi Islam. Perda bernuansa agama non-Islam juga muncul seperti adanya perda yang mengatur tata cara penguburan mayat dan pesta adat di Tana Toraja juga muncul. Jika ingin fair, semestinya Jokowi-JK tidak hanya spesifik membidik Perda Syariat Islam.





Sepanjang 1999-2009 sedikitnya terdapat 151 perda yang bernuansa syariat Islam. Memang di beberapa daerah terdapat persoalan di lapangan. Namun ada juga perda yang bernuansa syariat Islam tidak menimbulkan persoalan di daerah. (*inl)





















Diserang Kubu Prabowo: 12 Alasan Tidak Pilih Jokowi







Eks Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus eks politisi Partai Hanura Fuad Bawazier membeberkan alasan tidak memilih Joko Widodo sebagai calon presiden. Setidaknya ada 12 alasan dirinya tidak pilih Jokowi.




"Kenapa kita tidak pilih Jokowi. Pertama, tidak tegas. Kedua, disetir banyak pihak seperti Bu Mega, PDIP dan konglomerat hitam penyandang dana," ujar pendukung Prabowo-Hatta, Fuad Bawazier lansir Aktual.co, Senin (2/6).







Fuad Bawazier


Ketiga, Jokowi tidak punya konsep dan ide-ide yang jelas, apalagi bila harus berhadapan dengan pihak asing.





"Keempat, Jokowi tidak bisa bahasa Inggris. Keliima, tidak menepati janji jabatan. Tidak selesai menjalankan jabatannya sebagai Walikota Solo (padahal sudah disumpah), dan tidak selesaikan jabatan Gubernur DKI, kini mau nyapres," tambahnya.





Masih kata Fuad, keenam, Jokowi kurang pengalaman dan lemah wawasan nusantaranya. Ketujuh, Jokowi lebih menonjolkan dirinya sebagai "orang sederhana", padahal yang kita cari pemimpin.





"Orang yang lebih sederhana dari Jokowi sudah ada ratusan juta jiwa. Justru mereka yang harus diangkat agar meningkat kehidupannya," tegasnya.





Kedelapan, kalaupun Jokowi menang, pemerintahannya tidak akan stabil sebab dukungannya di DPR hanya 37 persen, sementara kalau Pabowo didukung 63 persen.





"Sembilan, kemungkinan Jokowi terlibat kasus korupsi Bus TransJakarta," kata Fuad lagi.





Sepuluh, peran asing di Indonesia akan menguat dan BUMN/BUMD/aset negara banyak dijual lagi. Sebelas, utang luar negeri akan meningkat terus sesuai saran asing dan Bank Dunia.





"Terakhir, Jokowi adalah tokoh karbitan media yang belum siap alias belum matang untuk jadi presiden," tuntas Fuad. (*aktual)





















Tuesday, May 27, 2014

“Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun! Berawal dari Jokowi dan Prabowo”






JELANG pelaksanaan pemilihan umum presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014, kekhawatiran tumbuh besar. Kekhawatiran itu muncul karena para pendukung masing-masing pasangan Prabowo-Hatta Radjasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla menunjukkan perilaku negatif dan meresahkan.





Hal ini disampaikan oleh Nasrulloh Afandi, kader Nahdlatul Ulama (NU) di Maroko yang juga kandidat Doktor Maqasid Syariah di Universitas Al-Qurawiyin, Maroko. Ia mengaku prihatin dengan moralitas para simpatisan capres-cawapres.





''Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun! Berawal dari Jokowi dan Prabowo akan bertarung di pilpres. Bangsa Indonesia sedang dilanda musibah besar, yaitu merajalelanya kerusakan akhlak," kata Nasrulloh seperti dilansir dari laman resmi NU, Selasa (27/5). 





"Mereka menjadi saling hujat, saling hina, saling caci maki, bahkan fitnah ditebar di sana-sini, tanpa ragu dan tanpa malu dilakukan di muka umum, hanya karena mendukung Prabowo atau mendukung Jokowi,'' lanjutnya.





Padahal Nasrulloh mengatakan siapapun yang menang belum tentu mereka peduli. Terutama, kata dia, melakukan balas budi kepada para pendukungnya yang sekarang ini saling caci-maki, menghujat, fitnah dengan sesama saudara sebangsa dan setanah air sendiri.





''Menyedihkannya lagi, musibah besar kerusakan akhlak itu seolah-olah tidak ada beban, dianggap hal biasa, bahkan 'harus' dilakukan, dan sama sekali tidak ada kesan dianggap bencana atau perbuatan dosa,'' kata pria yang akrab disapa Kang Nasrul ini.





Menurutnya, ada tiga hal yang akut menjangkiti musim kampanye politik di Indonesia, yakni ghibah (menggunjing), namimah (manuver adu domba), dan fitnah.





''Hal ini harus menjadi perhatian serius para pemuka agama dan ulama,'' kata pria yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat ini. Demikian lansir republika.co.id.




















Pilot Inggris: “MH370 Dibajak dan Ditembak Teroris”



Prediksi baru kembali muncul terkait misteri tragedi lenyapnya pesawat Malaysia Airlines MH370. Seorang pilot dan penulis asal Inggris meyakini, pesawat MH370 terkena peluru nyasar oleh tembakan teroris yang berhasil membajak pesawat itu.


Sylvia Wrigley, nama penulis dan pilot Inggris itu mengungkap analisisnya dalam sebuah buku berjudul “The Mystery of Malaysia Airlines Flight 370”.


Menurutnya, pesawat pembawa 239 orang itu mengalami dekompresi, setelah ada lubang akibat tembakan nyasar dari teroris yang berhasil membajak pesawat. Tembakan nyasar itu terjadi, karena teroris berkelahi dengan awak atau penumpang yang berusaha menggagalkan pembajakan.


Namun, dekompresi itu berlangsung secara bertahap dan memungkinkan si pengendali pesawat masih bisa menerbangkan pesawat MH370 beberapa jam sebelum kehabisan bahan bakar dan jatuh ke laut.


Analisis Wrigley itu, berdasarkan riset ketat dan dalam waktu yang lama dengan memeriksa setiap laporan resmi yang di-posting online oleh pemerintah Malaysia, China, Australia, Amerika Serikat dan Inggris.





Menurut Wrigley, teroris berhasil mengambil kendali pesawat sesaat setelah lepas landas dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada 8 Maret 2014. Namun, aksi teroris itu dilawan salah seorang di dalam pesawat, entah penumpang atau awak pesawat MH370.


“Sebuah tembakan bisa menyebabkan dekompresi lambat, (dan) terdeteksi oleh para pembajak. (Kondisi itu) menyebabkan mereka tidak memberikan masker oksigen ketika tekanan (udara) berkurang,” katanya, seperti dikutip Express, kemarin (25/5/2014).


”Kenyataan yang menyedihkan adalah, bahwa kita hampir (tidak) pasti memiliki semua informasi yang akan kita dapatkan, sampai puing-puing pesawat dan kotak hitam ditemukan,” lanjut dia.


Sejak lenyap misterius hampir tiga bulan, pesawat MH370 tidak diketahui jejaknya. Pemerintah Malaysia dengan acuan data satelit Inmarsat Inggris memutuskan pesawat itu jatuh di Samudera Hindia selatan. Namun, data satelit itu sejatinya tidak menyebut pesawat jatuh ke laut, namun hanya menunjukkan arah terakhir laju pesawat MH370.


Perihal laporan tragedi pesawat MH370 karena terkena tembakan nyasar teroris yang ada di dalam pesawat, pemerintah Malaysia belum memberikan konfirmasi.


Sebelum laporan terbaru itu muncul, pernah muncul prediksi bahwa pesawat MH370 tipe Boeing 777 itu tertembak oleh militer Amerika Serikat ketika melakukan latihan di kawasan Thailand. Sedangkan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, justru menduga CIA terlibat dalam tragedi pesawat tersebut. (*Express/snd)





Monday, May 26, 2014

Lain dulu Lain sekarang, JK Jilat Ludah Sendiri?








KETIKA belum dipilih menjadi pendamping Capres Joko Widodo (Jokowi), Jusuf Kalla begitu gencar mengkritik kinerja mantan Wali kota Solo itu sebagai Gubernur DKI Jakarta.





JK menyatakan, Jokowi belum memiliki bukti sukses sehingga tidak pantas untuk maju capres 2014. Rupanya, sikap itu berubah ketika Jokowi memilih JK sebagai Cawapres 2014.





Sikap plin-plan ini, menurut Kordinator Aliansi Ormas dan LSM (AOM) Jawa Timur Irwanto tidak mencerminkan sosok JK adalah seorang negarawan.





Ia menganggap, pernyataan JK itu tidak konsisten. "Saya menganggap JK ibaratnya menjilat ludah sendiri. JK dulu dengan sekarang berbeda," ujarnya.





Mantan Aktivis 98 ini mengaku mengagumi JK dengan sosok kenegarawannya. Namun, ketika sikap tersebut berubah ia mengaku tidak simpatik lagi. Sepertinya ada ambisi untuk berkuasa lagi. Nah, sikap tersebut tidak mencerminkan sosok negarawan sejati.





"Berbeda ketika belum dipinang sebagai Cawapres. Pak JK dengan tegas memberikan kritik-kritik keras terhadap kinerja Jokowi ketika menjabat sebagai Gubernur DKI."



"Pak JK pernah mengatakan; "Jangan berpikir dulu jadi presiden. Karena masyarakat mendukung itu baru dalam tahap harapan, nah harapannya itu harus dibuktikan"," ujar Irawanto menirukan pernyataan JK.





Ia juga meminta kepada masyarakat Indonesia sebagai penentu pemimpin masa depan untuk memberikan pilihan secara cerdas. Artinya, tidak tertipu dengan pencitraan-pencitraan para calon. Selain itu, juga mengajak untuk berifikir siapa negarawan yang layak untuk memimpin bangsa ini dalam lima tahun kedepan.





"Ada dua pasangan ini. Silahkan dipilih mana yang mampu membawa arah bangsa ini lebih maju. Yang jelas jangan Golput saat pilpres nanti," pungkasnya.





Sebelumnya, dalam sebuah wawancara khusus dengan Okezone, (27/3/13), JK menyatakan kepada Gubernur DKI Jakarta, Jokowi untuk tidak berpikir capres.





"Jangan berpikir dulu jadi presiden. Karena masyarakat mendukung itu baru dalam tahap harapan, nah harapannya itu harus dibuktikan," kata JK.





Kata JK, Jokowi dihargai lalu didukung jadi calon presiden bukan karena bukti bahwa kinerjanya membangun Ibu Kota sukses. "Macet masih macet, banjir masih banjir, kumuh masih. Belum ada buktinya sukses," tegasnya.





Mantan menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu mengatakan, jika Jokowi terpengaruh dengan desakan untuk jadi calon presiden, maka ketika tidak berhasil mantan walikota Solo itu akan merasakan sakit luar biasa.





"Jadi sabar untuk membuktikan," ungkapnya. "Saya yang mengajak Jokowi ke Jakarta. Saya punya harapan pada dia, kalau dia terlalu cepat bergeser banyak orang yang kecewa, nanti orang menyalahkan saya," tambahnya. (*okzone)





















Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : 113 LORONG KEMATIAN KEINDAHAN dan ketenangan Telaga Sar...