Monday, August 26, 2013

“Aceh Pungo”, Pembunuhan Nekad Khas Aceh











Oleh Rusdi Sufi (*




Perang Belanda di Aceh yang meletus sejak tahun 1873 hingga awal abad XX belum berakhir. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengakhiri perang yang telah banyak memakan korban, baik di pihak Aceh maupun di pihak Belanda sendiri. Menjelang akhir abad XIX dan pada awal abad XX, Belanda melaksanakan suatu tindakan kekerasan melalui sebuah pasukan elit yang mereka namakan het korps marechaussee (pasukan marsose).






Pasukan ini dari serdadu-serdadu pilihan yang memiliki keberanian dan semangat tempur yang tinggi, dengan tugas untuk melacak dan mengejar para pejuang Aceh melawan Belanda ke segenap pelosok daerah Aceh. Mereka akan membunuh para pejuang Aceh yang berhasil ditemukan atau setidaknya membuang ke luar daerah Aceh.





Dengan cara kekerasan ini Belanda mengharapkan rakyat atau para pejuang akan takut dan menghentikan perlawanan Belanda. Namun apa yang terjadi ? Akibat tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam bagi para pejuang Aceh yang bersisa, lebih-lebih bagi keluarga mereka tinggalkan, ayah, anak, menantu, sanak keluarga atau kawomnya yang telah menjadi korban keganasan pihak Belanda.





Untuk membalas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda tersebut para pejuang Aceh melakukan suatu cara yang kemudian diistilahkan oleh Belanda dengan nama Atjeh Moorden atau het is een typische Atjeh Moord, Suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan. 





Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda apakah ia serdadu, orang dewasa, perempuan atau anak-anak sekalipun menjadi sasaran untuk dibunuh. Dan tindakan pembunuhan nekad ini dilakukan di mana saja di jalan, di pasar, di taman-taman atau pun pada tangsi-tangsi sendiri.





Pembunuhan khas Aceh ini antara tahun 1910 – 1920 telah terjadi sebanyak 79 kali dengan korban di pihak Belanda 12 orang mati dan 87 luka-luka, sedang di pihak Aceh 49 tewas. Puncak dari pembunuhan ini terjadi dalam tahun 1913, 1917, dan 1928 yaitu sampai 10 setiap tahunnya. Sedangkan di tahun 1933 dan 1937 masing-masing 6 dan 5 kali. Adapun jumlah korban dalam perang Belanda di Aceh selama sepuluh tahun pada awal abad XX (1899-1909) sebagaimana disebutkan Paul Van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog tidak kurang dari 21.865 jiwa rakyat Aceh. 





Dengan kata lain, angka itu hampir 4 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. Angka ini setelah 5 tahun kemudian (1914) naik menjadi 23.198 jiwa dan diperhitungkan seluruh korban jiwa (dari pihak Aceh dan Belanda) dalam kurun waktu tersebut hampir sama dengan yang telah jatuh pada masa perang 1873 – 1899.





Hal ini belum lagi korban yang jatuh setelah tahun 1914 hingga tahun 1942. Salah seorang perwira Belanda yang menjadi korban akibat pembunuhan khas Aceh ini ialah Kapten CE Schmid, komandan Divisi 5 Korp Marsose di Lhoksukon pada tanggal 10 Juli 1933, yang dilakukan oleh Amat Lepon. Sementara pada akhir bulan Nopember 1933 dua orang anak-anak Belanda yang sedang bermain di Taman Sari Kutaradja (sekarang Banda Aceh) juga menjadi korban pembunuhan khas Aceh ini.









Pembunuhan khas Aceh adalah sikap spontanitas rakyat yang tertekan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan Marsose Belanda. Sikap ini juga dijiwai oleh semangat ajaran perang Sabil untuk poh kaphe (bunuh kafir). Di samping itu juga adanya suatu keinginan untuk mendapatkan mati syahid. Dan untuk membalas dendam yang dalam istilah Aceh disebut tueng bila, sebuah istilah yang menggambarkan betapa membara semangat yang dimiliki oleh rakyat Aceh.





Akibat adanya pembunuhan nekad yang dilakukan rakyat Aceh tersebut menyebabkan para pejabat Belanda yang akan ditugaskan ke Aceh berpikir berkali-kali. Dan ada di antara mereka yang tidak mau mengikutsertakan keluarganya (anak-istri) bila bertugas ke Aceh. Malahan ada yang memulangkannya ke negeri Belanda. Para pejabat Belanda di Aceh selalu membayangkan dan memikirkan bahaya Atjeh Moorden tersebut.





Mereka tidak habis pikir, bagaimana hanya dengan seorang saja dan bersenjata rencong yang diselipkan dalam selimut atau bajunya para pejuang Aceh berani melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda, bahkan pada tangsi-tangsi Belanda sekalipun. Oleh karena itu, ada di antara orang Belanda yang menyatakan perbuatan itu “gila” yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang waras, maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda yang menyebutnya Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo (Aceh Gila).





Untuk mengkajinya pihak Belanda mengadakan suatu penelitian psikologis terhadap orang-orang Aceh. Dalam penelitian itu terlibat Dr. R.H. Kern, penasihat pemerintah untuk urusan kebumiputeraan dan Arab, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbuatan tersebut (Atjeh Moorden) termasuk gejala-gejala sakit jiwa. 





Suatu kesimpulan yang mungkin mengandung kebenaran, tetapi juga mungkin terdapat kekeliruan, mengingat ada gejala-gejala yang tidak terjangkau oleh dasar-dasar pemikiran ilmiah dalam Atjeh Moorden tersebut. Menurut R.H. Kern apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh orang Belanda karena itu jiwanya akan tetap melawan Belanda.




Dengan kesimpulan bahwa banyak orang sakit jiwa di Aceh, maka pemerintah Belanda kemudian mendirikan rumah sakit jiwa di Sabang. Dr. Latumenten yang menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang kemudian juga melakukan studi terhadap pelaku-pelaku pembunuhan khas Aceh yang oleh pemerintah Belanda mereka itu diduga telah dihinggapi penyakit syaraf atau gila.





Namun hasil penelitian Dr. Latumenten tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku itu adalah orang-orang normal. Dan yang mendorong mereka melakukan perbuatan nekad tersebut adalah karena sifat dendam kepada Belanda yang dimiliki yaitu tueng bila. Untuk itu seharusnya tindakan kekerasan jangan diperlakukan terhadap rakyat Aceh.






Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijaksanaan baru yang dikenal dengan politik pasifikasi lanjutan gagasan yang dicetuskan oleh C. Snouck Hurgronje. Sesuatu politik yang menunjukkan sifat damai di mana Belanda memperlihatkan sikap lunak kepada rakyat Aceh, mereka tidak lagi bertindak hanya dengan mengandalkan kekerasan, tetapi dengan usaha-usaha lain yang dapat menimbulkan simpati rakyat.





*Penulis Rusdi Sufi, Sejarawan asal Aceh








Like → Tweet :










Join → Follow :












Bubarkan Paksa Miss World, Rizieq Shihab Siap Ditangkap






Imam Besar sekaligus Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dapat bersikap tegas dalam menyikapi polemik penyelenggaraan Miss World di Indonesia.





FPI menegaskan, siap membubarkan secara paksa pelaksanaan kontes kecantikan Miss World.





Aksi sepihak tersebut, bakal dilakukan FPI kalau pemerintah tetap mengeluarkan surat perizinan penyelenggaraan kontes kecantikan tersebut di Indonesia.





"Cuma satu kalimat, itu bukan budaya kita," Kata Rizieq.





"Wajib kita bubarkan acara Miss World kalau pemerintah memaksakan (memberi izin)," ujar Habib Rizieq Shihab di Petamburan, Minggu (25/8/2013).





Ia juga menegaskan FPI akan tetap menolak penyelenggaraan miss World di Indonesia dan akan terus menyuarakan penolakan tersebut dan ia berharap Presiden SBY dapat bersikap tegas terkait polemik tersebut.





"Mustinya begitu wibawa seorang presiden, tidak usah repot-repot dengan SK, kepres, atau rapat kabinet berkepanjangan, cukup presiden ambil inisiatif dengan tegas bahwa pergelaraan miss world bertentangan dengan nilai-nilai norma agama dan kearifan lokal dan budaya kita, batalkan," tukasnya.





Bahkan, Habib Rizieq menyatakan siap untuk ditangkap aparat kepolisian dengan rencana aksi sepihak tersebut.





Sebab, kata dia, Miss World sarat dengan kemaksiatan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia.





"Saya siap bertanggung jawab dunia akhirat. Gak usah cari kemana-kemana provokatornya, ada Habib Rizieq siap ditangkap untuk membubarkan Miss World," tandasnya.









Like → Tweet :










Join → Follow :











Sunday, August 25, 2013

WNI di Mesir Ketakutan: “Wahai SBY, Apa harus Kami Tuliskan Darah Kami?”



Evakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Mesir dinilai belum diperlukan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, kondisi negeri yang belakangan dirundung konflik berdarah itu telah membaik. 


Menyambut pernyataan pria yang akrab disapa SBY itu, para WNI yang tengah berada di lembah Nil tersebut pun buka suara.


"Wahai presidenku! Apa harus kami tuliskan dengan darah kami. Tentang ketakutan yang tak lagi berbahasa. Tentang keresahan yang tak lagi mampu terkata. Kami ingin evakuasi!" kata Kakanda Syadeva mahasiswa asal Magelang, Jawa Tengah, di Mesir, Sabtu (24/8/2013).


Sementara, Dita Rosmita, mahasiswi Universitas Al Azhar yang berasal dari Cikampek, Jawa Barat, berharap evakuasi WNI di Mesir segera dilakukan. Dia mengaku ketakutan.


"Saya menginginkan evakuasi karena cuma ada mahasiswi di kawasan rumah saya di daerah, yaitu Alexandria, Kami ketakutan," ucap Dita.


Namun suara berbeda dituturkan Yuli Yasin. Mahasiswi yang tengah merampungkan program doktor di Cairo University itu sepakat dengan SBY.


"Saya rasa belum diperlukan evakuasi, karena Mesir masih aman. Toh kita masih beraktivitas seperti biasa di luar jam malam," ujar mahasiswi asal Karawang, Jawa Barat itu.


Jajak pendapat terhadap 263 responden dari kalangan mahasiswa menunjukkan 126 orang (47,9 persen) menginginkan evakuasi, dan 137 orang (52,0 persen) enggan ikut evakuasi.


Jajak pendapat yang dilakukan dengan wawancara tatap muka, telepon dan lewat jejaring sosial facebook tersebut bersifat independen atas prakarsa pribadi wartawan Antara di Kairo.


23 Agustus 2013 lalu, dalam akun Twitter-nya, SBY menyatakan kondisi Mesir telah membaik.


"Presiden: Krn situasi di Mesir membaik, maka belum perlu dilakukan evakuasi. Tapi pemerintah akan membantu bagi WNI yg benar2 ingin kembali," tulis SBY.






Like → Tweet :
Join → Follow :

Mesir Buru Pria Berjanggut dan Wanita Bercadar



Di Mesir, laki-laki berjanggut atau perempuan bercadar menutupi wajah atau niqab, sering dikaitkan sebagai Muslim relijius, dan dihubung-hubungkan sebagai pendukung Ikhwanul Muslimin. Tetapi kini, mereka menjadi sasaran militer Mesir untuk dihabisi.


Abdul Salam Badr tak punya pilihan selain mencukur janggutnya untuk menyelamatkan diri dari sasaran pemerintah dan militer Mesir yang kini memburu para pendukung presiden Islamis terguling Mohamed Morsi.


Hari-hari belakangan ini, tanda-tanda kesalehan seperti memelihara janggut selalu menarik kecurigaan pasukan keamanan di tempat-tempat pemeriksaan ibukota Kairo dan milisi sipil yang ingin menyerang kaum Islamis.


“Saya sedang menumpang taksi menuju kamar mayat, mengangkut mayat teman saya yang terbunuh dalam demonstrasi,” kata Badr seperti dirilis Foxnews (22/8/2013).


“Saya diberhentikan oleh sekelompok milisi karena saya berjanggut,” tambah laki-laki 29 tahun itu, yang mengaku bukan anggota setia kelompok organisasi politik manapun. “Satu-satunya yang menyelamatkan saya adalah kenyataan bahwa saya sedang membawa mayat.” Di sebuah salon kecil, ia mencukur habis janggutnya, “karena hidup akan lebih aman tanpa janggut.”


Penggulingan Morsi, yang didukung kelompok Islamis Ikhwanul Muslimin, telah memicu sebuah perburuan atas mereka yang dianggap sebagai para pengikutnya.



Kampanye ini dibangkitkan oleh media lokal yang sepanjang hari menyiarkan gambar-gambar lelaki bersenjata. Salah satu video yang memperlihatkan laki-laki berjanggut dengan bendera jihad menyerang laki-laki muda setelah mereka dilempar dari atap sebuah blok apartemen di Alexandria.


Media lokal dan pemerintah juga memberi label keras dengan menggeneralisir Ikhwanul Muslimin sebagai “teroris“.


Apa yang disebut sebagai “Komite Rakyat”, yakni milisi yang tumbuh di lingkungan warga, telah menambah hidup semakin buruk, dengan memberi kesempatan warga untuk melampiaskan kemarahan, khususnya di Kairo setelah jam malam diberlakukan.


“Orang-orang yang memiliki janggut harus membayar kekerasan yang dilakukan kelompok Ikhwanul Muslimin dan kelompok Islamis lainnya” dalam beberapa hari terakhir, kata May Moujib, seorang professor politik di Universitas Kairo.


Mereka yang terkena dampak berkisar mulai dari anggota Ikhwanul Muslimin yang sebenarnya hingga mereka yang tidak punya afiliasi dengan kelompok itu tapi kebetulan menyukai janggut.


Seorang fotografer barat memutuskan mencukur janggutnya setelah berulangkali ditegur di jalanan dan bahkan diancam oleh orang Mesir yang salah mengira dirinya sebagai seorang anggota Ikhwanul Muslimin.


Seorang sopir taksi berjanggut, mengakui bahwa para pelanggan semakin enggan menggunakan jasanya.“Ini mungkin awal kampanye untuk memboikot para sopir taksi berjanggut,“ kata dia.


Mohammed Ibrahim, seorang apoteker yang berjanggut, terpaksa mengubah rute dan waktu perjalanannya ke tempat kerja untuk menghindari “ketegangan dengan komite rakyat.” | ATJEHCYBER)






Like → Tweet :
Join → Follow :

Morsi digulingkan karena Berusaha Menghapus Perjanjian Camp David antara Mesir-Israel



Analis Zionis menuding Presiden Mesir terpilih yang dikudeta militer, Dr Muhammad Mursi berencana menghapus kesepakatan Camp David antara Mesir dan entitas Zionis Israel. 


Penelitian menemukan, Mursi bersama para pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin menyiapkan taktik untuk membuat keputusan menghindari Camp David dengan menuding penjajah Zionis tidak menghormati pasal-pasal yang disepakati, demikian dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC).


Strategi Mursi memperhatian sikap masyarakat internasional dan menegaskan penghormatannya kepada kesepakatan internasional yang ditandatangani Mesir di satu pihak, dan meminta para penasehatnya untuk memberikan saran bagaimana berkelit dari Camp David.


Penelitian yang dilakukan Dr. Liad Porat berjudul “The Muslim Brotherhood and Egypt-Israel Peace” (Al Ikhwan Al Muslimun dan Tantangan Perdamaian antara Mesir dan Israel) diterbitkan Pusat Penelitian Strategis Universitas Par Elian usai Mursi dikudeta.


Penelitian yang diterbitkan tanggal 1 Agustus 2013 menegaskan, sikap Mursi terhadap penjajah Zionis menempatkan sebagai musuh ideologi dan agama, dan secara intensif mengokohkan kesadaran kepada warga Mesir bahwa Israel adalah pihak musuh.


Strategi Kementerian Luar Negeri Mesir di masa Mursi adalah mendukung perjuangan Palestina menghadapi penjajah Zionis.


Peran besar yang dimainkan Mursi dalam mendukung perlawanan Palestina dalam agresi Zionis pada Februari 2012 sangat jelas, di samping sikap Mesir dalam kesepakatan gencatan senjata yang memperkuat posisi perlawanan Palestina.


Penelitian ini juga menuding, sekiranya pemerintahan Mursi berlanjut, makan dukungannya terhadap perjuangan Hamas akan beralih kepada tataran teknis.


Dan keseriusan Ikhwanul Muslimin menempatkan anggotanya dalam pemerintahan Mesir usai kemenangan Mursi, adalah untuk memperbaiki kemampuan mereka melawan penjajah Zionis di masa depan.


Dan pemerintahan Mesir akan memberikan bantuan militer langsung kepada gerakan Hamas, yang diklaim bahwa langkah ini sebagai pertahanan diri, di samping intervensi militer Mesir tak langsung dalam menekan Israel.


Penulis Zionis lainnya menyerukan kepada dunia untuk melakukan aksi menolak kembalinya Ikhwanul Muslimin berkuasa di Mesir. Bukan tidak mungkin konflik Mesir dengan tergulingnya Mursi ada kaitannya penelitian ini. | ATJEHCYBER


(*/pip/fmadani)



Like → Tweet :
Join → Follow :

Kisah Sipir Penjara ‘Sadis’ Guantanamo Jadi Mualaf





Terry Holdbrooks Jr. ©the Guardian





Terry Holdbrooks Jr, 29, kini memelihara janggut lebat. Jika pergi ke restoran dia akan memilih duduk di meja yang menghadap tembok. Dia juga kerap memalingkan wajah dari hadapan kamera.





Holdbrooks mengatakan dia mempelajari Islam sejak menjadi sipir di penjara Amerika Serikat di Teluk Guantanamo pada 2003-2004. Dia mengaku sering berdiskusi hingga larut malam dengan tahanan muslim selama bertugas di sana. Dari banyak diskusi itulah dia semakin mengenal Islam dan akhirnya memutuskan memeluk Islam.





Dia menuturkan kisah hidupnya itu di Pusat Islam Huntsville, Amerika Serikat, Sabtu lalu, di hadapan sekitar 80 orang.





Terkait berita baru-baru ini tentang aksi mogok makan 102 tahanan dari total 166 orang tahanan Guantanamo, dia mengatakan para tahanan itu seharusnya sudah dibebaskan lima atau enam tahun lalu.





"Mereka sudah putus asa. Mereka memutuskan lebih baik mati. Salah satu dari mereka bahkan berat badannya hanya 31 kilogram," kata Holdbrooks.





Dia saat ini tengah berkeliling dengan Khalil Meek, wakil pendiri sekaligus direktur eksekutif komunitas muslim Texas. Mereka sedang menggalang dana untuk organisasi nir-laba membela hak asasi kaum muslim yang perlu bantuan hukum.





"Saya juga menulis kisah saya ini dalam buku yang mudah dicerna orang awam. Mereka akan paham bahwa penjara Guantanamo adalah sesuatu yang memalukan. Saya memang sudah menjadi muslim tapi saya bukan pengkhianat," kata Holdbrooks.









Salah satu tugas dia ketika jadi sipir di Guantanamo adalah mengawal tahanan untuk proses interogasi dan membawa mereka kembali ke dalam selnya. Holdbrooks tahu betul bagaimana tingkat stres para tahanan ketika menghadapi pertanyaan yang diulang-ulang dan selama penyiksaan.





"Bagaimana mungkin Anda masih bisa tersenyum di Guantanamo? Bagaimana Anda bisa percaya ada Tuhan yang melindungi Anda?" tanya dia suatu kali kepada seorang tahanan.





"Saya senang menghabiskan waktu di Guantanamo. Allah sedang menguji keimanan saya. Kapan lagi saya punya waktu mempelajari Alquran dan bisa membacanya dalam bahasa Arab dan melatih mental?" jawab sang tahanan.





Seiring perjalanan waktu Holdbrooks semakin mengenal pribadi para tahanan. Dia juga kian sering berdiskusi hingga larut malam membahas berbagai hal dari mulai etika, filsafat, sejarah, dan agama. Holdbrooks menjadi paham bahwa serangan 9 September itu sesungguhnya bukan ajaran Islam.






Ketika dia sudah tidak lagi bertugas di Guantanamo, Holdbrooks mempelajari Islam lewat INternet. Tahanan yang sering menjadi temannya berdiskusi, seorang mantan koki dari Inggris, menghadiahinya sebuah kitab suci Alquran.





Holdbrooks mengaku telah mempelajari agama Kristen, Buddha, dan Yahudi semasa mudanya dan tak pernah menemukan kedamaian seperti dalam Alquran. Untuk pertama kali dia mengaku menemukan ajaran paling masuk akal.









"Dari awal hingga akhir ayat Alquran masuk akal. Tidak ada pertentangan dalam ayat-ayatnya. Ini bukan sulap. Ini hanya ajaran sederhana untuk menjalani kehidupan."





Setelah mempelajari Alquran dan banyak berdiskusi selama tiga bulan akhirnya Holdbrooks menyatakan ingin masuk Islam.




"Jangan," kata teman tahanan Holdbrooks itu.





Temannya itu mengatakan masuk Islam berarti Holdbrooks harus meninggalkan gaya hidupnya selama ini dan mau berubah. Dia harus berhenti mabuk, mengkonsumsi narkotika, bertato, dan hal lain yang dilarang Islam.





Sedikit demi sedikit Holdbrooks mau berubah. Dia pun bisa merasakan jasmani dan rohaninya semakin sehat. Akhirnya Holdbrooks pun menikah. Pada Desember 2003 Holdbrooks akhirnya mantap mengucapkan syahadat.





"Ketika saya berjalan mendekati Islam, Islam berlari mendekati saya," tukasnya.



(*/alcom/mrdka)





Like → Tweet :










Join → Follow :











Gara-gara Ditangkap, Sumbangan Rahasia Pimpinan IM Terbongkar




Penangkapan Petinggi Ikhwanul Muslimin Ungkapkan Data Rahasia 750 Ribu Keluarga Miskin
Muhammad Khairat Asy Syathir, Pimpinan Ikhwanul Muslimin



Salah seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin, Muhammad Khairat Asy Syathir terungkap telah menyumbang 30 juta junaih Mesir (sekitar Rp 45 milyar) per bulan kepada 750 ribu keluarga miskin Mesir. Hal itu baru diketahui setelah pengusaha yang juga wakil I jamaah Ikhwan itu ditangkap militer dan hard disk-nya digeledah.



Seperti dilansir Fimadani, saat penangkapan Asy Syathir, ditemukan sebuah hardisk yang setelah dibuka ternyata isinya adalah data 750 ribu keluarga miskin yang dibantunya selama ini.



Dalam sebuah video di Youtube, dijelaskan kalau setiap keluarga terdiri dari 4 orang maka totalnya menjadi 3 jutaan jiwa.



Bentuk bantuan berupa sembako dalam paket kardus senilai 37 Junaih Mesir. Jadi, jika ditotal, maka tiap bulan Khairat Asy Syathir merogoh sekitar 30 juta Junaih Mesir untuk membantu rakyat jelata.



Ustadz Anshari Taslim, Lc, pengamat gerakan Islam sekaligus penerjemah kitab-kitab turats (klasik), menyebutkan bahwa perbuatan Khairat Asy Syathir ini mirip dengan Ali Zainal Abidin, salah satu Ahlul Bait keturunan Rasulullah.



“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau yang lebih dikenal dengan nama Zainul Abidin. Syiah menganggapnya sebagai salah satu imamnya, padahal dia adalah Ahlus Sunnah. Zainul Abidin ini semasa hidup dikenal sebagai orang pelit (yang) tak pernah terlihat menyumbang. Tapi begitu dia meninggal dunia barulah mereka tahu bahwa selama ini tiap malam dia memberikan makan kepada seratus keluarga miskin di Madinah. Bahkan, di punggungnya masih terlihat bekas keranjang yang selalu dia bawa di malam hari untuk membawa makanan itu.”



(*/ATJEHCYBER)







Like → Tweet :










Join → Follow :











Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : 113 LORONG KEMATIAN KEINDAHAN dan ketenangan Telaga Sar...