Sekretaris Dewan Hisab dan Ru'yah PP Persis Syarief Ahmad Hakim telah mengeluarkan surat edaran 1190/JJ-C.3/PP/2013 yang menyatakan bahwa awal Ramadan jatuh pada Rabu (10/7).
“Perlu kami jelaskan. Pada Senin (8/7), sudut elongasi bulan/ dan matahari 4 derajat 34 menit. Padahal, minimal ketinggian dan jarak elongasi bulan-matahari 6,4 derajat. Jadi, tepat hari Senin itu posisi kurang dari kriteria, maka bulan Syakban digenapkan jadi 30 hari. Otomatis 1 Ramadan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 201,” jelas Syarief.
Sedangkan, tambahnya, untuk penetapan 1 Syawal, pihaknya juga telah menetapkannya, Kamis (8/8).
”Ini versi kita, silahkan yang lain beda dari kami. Dan, hal itu sama sekali tidak ada masalah.”
Awal Ramadhan Muhammadiyah Selasa, 9 Juli
Keputusan PP Muhammadiayah berbeda dengan Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Peris). Pimpinan Wilayah Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan, Selasa (9/7).
Penetapan tersebut mengacu pada hilal yang telah muncul di wilayah barat Indonesia, atau bersamaan dengan awal Ramadan 1434 Hijriah.
Ketua PW Muhammadiyah Ayat Dimyati, kemarin, menjelaskan dari data hisab hakiki wujudul hilal. Muhammadiyah menetapkan ijtimak menjelang Ramadan pada Senin (8/7/2013), tepatnya pukul 14.15.55 WIB.
“Di saat matahari terbenam di tanggal itu sebagian wilayah barat Indonesia hilal sudah wujud. Berbeda dengan wilayah Timur Indonesia yang belum wujud. Untuk itu, Ramadan jatuh pada Selasa (9/7/2013),” tutur Ayat, Minggu (7/7).
Ia menambahkan untuk penetapan 1 Syawal, ijtimak jelang Syawal, Rabu (7/8) sekitar pukul 4.52 WIB, dan tinggi bulan pada saat terbenam matahari di Yogyakarta hilal sudah wujud dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam matahari itu, dan bulan berada sudah di atas ufuk.
“Itu yang menjadi pedoman kami, Lebaran jatuh, Kamis (8/8),” kata Ayat. Ia menuturkan pihaknyah memiliki kerangka berpikir yang longgar, dan hanya memberikan himbauan, serta penetapan ini bukan bersifat instruksi.
“Kami tidak mempermasalahkan jika memang ada perbadaan pandagan dalam penetapan waktu (Ramadan dan Lebaran). Untuk membangun ukhuwah Islamiyah, harus ada toleransi terhadap pelaksanaan ibadah yang beda,” pungkasnya. (*/metro)
No comments:
Post a Comment