Tahun ini Muhammadiyah kembali tidak mengikuti sidang isbat yang digelar ba’da maghrib tadi (8/7/2013). Sejak beberapa pekan lalu Muhammadiyah telah menentukan awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa esok (9/7/2013).
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Senin 8 Juni 2013 menegaskan, pemerintah sebetulnya tidak perlu menggelar rapat Isbat. Rapat untuk menentukan awal Ramadhan dinilai hanya menghambur-hamburkan uang negara. Din menyayangkan biaya untuk sidang isbat begitu besar, yakni diperkirakan mencapai 9 miliar rupiah.
“Seharusnya cukup nyatakan saja, karena kriteria tak terpenuhi maka tidak perlu rapat isbat yang katanya itu mahal sekali anggarannya sampai Rp9 miliar, itu dana rakyat,” ujarnya.
Cukup mengadakan konferensi pers mengenai hilal yang belum mencapai 2 derajat, hingga akhirnya 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu. Jika hal itu diterapkan Kementerian Agama merupakan langkah yang bijak menurut Din Syamsudin. “Daripada menghabis-habiskan uang rakyat,” tegasnya.
Din juga mengkritik kebijakan Kementerian Agama yang mematok kriteria minimal posisi hilal sebesar 2 derajat dalam menentukan awal Ramadhan. Dia memastikan hari ini hilal tidak akan mencapai posisi tersebut.
“Nyatakan saja belum di atas dua derajat dan belum memenuhi kriteria minimal. Daripada menghabiskan uang rakyat,” ujarnya.
Muhammadiyah sudah menetapkan Selasa 9 Juli 2013 besok sebagai awal Ramadhan. Penetapan itu berdasarkan metode hisab hakiki dengan dua kriteria.
Pertama, sudah terjadi ijtima atau konjungsi yaitu matahari dan bulan pada garis lurus yang menjadi tanda bulan berakhir. Kedua, pada sore harinya, ketika matahari tenggelam, bulan masih berada di atas ufuk atau cakrawala berapa pun derajatnya.
“Seribu tahun yang akan datang kami sudah tahu awal Ramadhan. Ini sangat-sangat eksak,” tuturnya.
No comments:
Post a Comment